Skip to content

Menanamkan Keimanan Anak

January 7, 2010

Keimanan kepada adanya Allah swt sebagai Maha Pencipta dan Maha Kuasa sudah ada benihnya dalam hati sanubari setiap manusia, karena telah merupakan komitmen setiap manusia dimasa ‘alam ruh.

“Ketika Tuhanmu mencabut dari tulang rusuk anak-anak Adam keturunannya, dan meminta pengakuan dari diri mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhan kamu?’; Mereka menjawab: ‘Sesungguhnyalah kami menyaksikan’. Dijelaskan hal in agar mereka nanti dihari qiyamat tidak mengatakan, bahwa kami tidak pernah diperingatkan. (Q. 7: 172)

Berdasarkan pernyataan dalam alQuran ini setiap Muslim berkeyaqinan, bahwa didikan keimanan kepada keEsaan Allah hanyalah bersifat peringatan (al zikir). Berbeda dengan keimanan Kristiani, yang menganggap manusia ketika dilahirkan sudah berdosa,  sehingga perlu dibaptiskan, maka ajaran Islam menentukan, bahwa setiap anak dilahirkan fithrah atau suci dari segala dosa. Hal ini ditegaskan oleh Rasul-Allah SAW dalam hadith beliau yang sangat terkenal:

“Setiap anak yang dilahirkan, lahir dalam fithrah, maka orang tuanya yang akan menjadikan dia Yahudi, Nashrani  atau Majusi”. (Hadits)

Berdasarkan hadits ini, maka tanggung jawab orang tua sebagai pendidik keimanan setiap anak sangatlah besarnya. Nilai keimanan setiap orang tergantung kepada didikan orang tua dan lingkungan hidup si anak.

Allah swt telah memesankan kepada kita ummat Islam agar mendidik anak itu pertama sekali dengan menanamkan sikap tauhid, karena tauhid inilah dasar pertama dan utama bagi pembinaan sikap dan akhlaq anak yang akan tumbuh menjadi tonggak keimanannya.

“Ingatlah, ketika Luqman berkata kepada anak yang sedang dididiknya: ‘Wahai anakku, janganlah engkau mensyirikkan Allah, sesungguhnyalah syirik itu dosa yang fatal. (Q. 31: 13)

Setiap orang tua seyogiyanyalah dapat membedakan pengajaran dengan pendidikan. Mengajar adalah suatu proses pemindahan ‘ilmu pengetahuan dari pengajar kepada anak, sedangkan pendidikan adalah proses pemindahan sikap dari pendidik kepada anak. Biasanya mendidik jauh lebih sulit dari mengajar. Pendidikan memerlukan terutama suatu benang halus yang menghubungkan pendidik dengan anak didik, yang di dalam alQuran dinamakan: “Mawaddah fi alqurba”, yang dapat diterjemahkan sebagai “jembatan hati” atau tali kasih sayang antar-manusia. Oleh karena tali kasih sayang antara orang tua dengan anak ini memang sudah secara ‘alami ada, maka pengaruh pendidikan keimanan yang datang dari orang tua jauh lebih berkesan bagi setiap anak dibandingkan dengan yang datang dari orang lain, walaupun orang itu pendidik professional.. Konon pula jika kita ingat, bahwa orang tua itu merupakan penyalur utama dari sifat alRahmaan1  Allah SWT bagi seluruh hamba-hambaNya. Bukankah kasih sayang orang tua, terutama ibu, kepada anaknya sangat mendekati sifat alRahmaan Allah SWT kepada makhluk-Nya?

Hubungan kasih sayang yang ‘alami ini akan terjalin terus merupakan modal bagi terjadinya proses “identifikasi”, yaitu penyerapan dan pengambilan (peniruan) sikap serta sistim nilai ibu bapa, sehingga menjadi bahagian dari pribadi anak. Proses ynag sangat penting dan menentukan ini akan menjadi optimal jika:

  1. Ibu dan bapak menjadi tokoh yang menarik dan mesra dengan diri anak. Hal ini akan lebih mudah berkembang jika disertai contoh teladan yang tepat seperti tutur kata yang lemah lembut serta halus dari sang ibu, pujian dan penghargaan jika si anak berhasil melakukan sesuatu yang baik atau menemukan ketrampilan baru. Hal ini akan mudah berlangsung pada saat-saat ibu bapa melakukan aktipitas bersama  merupakan suatu unit keluarga yang kompak.
  2. Adanya hubungan yang konsisten antara perbuatan dan perkataan, seperti menepati janji, seperti tepatnya waktu untuk shalat bersama. Konsistensi ini akan menumbuhkan rasa aman dan yakin di dalam dada si anak, sehingga ia akan mudah mempelajari serta membiasakan tabi’at yang baik.
  3. Memberikan contoh untuk senantiasa menghargai segala sesuatu yang memang  baik di dalam ‘alam dengan memuji keindahan ‘alam seperti bunga, binatang, warna langit diwaktu fajar dan senja sebagai ciptaan Allah untuk manusia, agar si anak terbiasa memperhatikan ‘alam, sebagai bibit yang akan tumbuh dalam peribadinya sebagai pembaca ‘alam yang tekun dalam rangka mempersiapkan diri anak sebagai pencinta ilmu pengetahuan (science). Kebiasaan ini akan mudah tumbuh menjadi sifat inquisitive pada diri anak, sbagaimana dicontohkan dalam alQuran tentang riwayat Ibrahim yang punya inquisitive mind.

“Demikianlah telah Kami peragakan kepada Ibrahim keindahan langit memayungi bumi, agar ia menjadi orang yang berpengertian mendalam. Ketika malam menutupi bumi, maka ia (Ibrahim) melihat bintang, lalu berkata: ‘Inilah tuhanku’, tetapi ketika bintang itu terbenam ia berkata: ‘Aku tak suka kepada yang tidak langgeng’. Ketika ia melihat bulan yang memancarkan terang, maka ia berkata: ‘Inilah tuhanku’, tetapi ketika bulan itu terbenam, maka ia berucap pula: ‘Seandainya Tuhanku tiada menunjuki aku, termasuklah aku kedalam kaum yang tersesat’. Ketika ia melihat matahari yang memancarkan sinar terang benderang, iapun berkata: ‘Inilah kiranya tuhanku, karena inilah yang terbesar’, namun ketika mataharipun tenggelam, maka ia berkata: ‘Wahai kaumku, aku berlepas diri dari segala kesyirikan kalian terhadap Allah. Sesungguhnya kuhadapkan wajahku kepada Yang Telah Menciptakan seluruh langit dan bumi secara haniif, dan bukanlah aku termasuk kelompok musyrikin’.”  (Q. 6: 75 – 79)

Kemesraan hubungan antara bapak dan ibu dalam mendidikkan keimanan ini ternyata merupakan faktor utama dan pertama bagi keberhasilan usaha yang berat namun suci ini.    Sejarahpun telah membuktikan, bahwa semua para penjahat atau manusia abnormaal pada umumnya datang dari keluarga yang retak atau pecah hubungan antara para anggotanya, terutama antara bapak dan ibunya. Apabila hubungan antara suami isteri kurang serasi di dalam suatu rumah tangga, maka korban pertama yang akan merasakan akibat ketidak serasian ini adalah anak-anak mereka. Anak yang dibesarkan di dalam suatu keluarga yang penuh ketegangan antara ayah bundanya akan mengalami stress dan disharmoni di dalam pertumbuhan keperibadiannya. Belayan kasih sayang seorang ibu diimbangi oleh didikan disiplin dari seorang figur ayah sangatlah didambakan oleh setiap anak demi  melahirkan pertumbuhan pribadi yang seimbang pula di dalam dirinya. Kedua hal ini jika tidak diperoleh seorang anak, maka pribadinya akan tumbuh merana seperti pohon yang ditanam diatas tanah yang kekeringan air dan tidak berpupuk. Oleh karena itulah Rasul-Allah berpesan agar setiap muslim yang akan mencari pasangan hiudpnya mendahulukan kualitas keagamaan sang calon pasangan tersebut.

“Wanita itu dinikahi karena kekayaannya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, namun utamakan olehmu agamanya, karena wanita yang paling membahagiakan itu ialah wanita yang shaleh.” (Hadith)

Karena definisi shaleh itu ialah sudi mematuhi hukum Allah dalam segala segi kehidupannya, maka dapatlah diyaqini, bahwa pasangan yang ideal serta mampu membesarkan serta mendidik anak-anak mereka secara islami ialah pasangan yang sudi dengan penuh keikhlashan menghayati seluruh akhlaq Allah, yang dinyatakan dalam asma alhusna. Namun harus pula disadari oleh setiap pasangan orang tua, bahwa disamping usaha yang optimal dalam pendidikan anak ini, keberhasilannya masih tergantung kepada kehendak Allah dalam menkaruniakan hidayahNya kepada sang anak. Oleh karena itu disamping usaha yang sungguh-sungguh kedua suami isteri hendaklah senantiasa menggantungkan harapan mereka kepada karunia Allah ini dengan sering berdo’a serta munajat bersama kepada Allah Maha Pengasih Maha Penyayang agar mencurahkan rahmat, taufiq dan hidayahNya kepada sang anak, karena manusia walau bagaimana baik dan shalehnya sampai sebagai seorang nabipun mungkin saja dapat dicobai Allah dengan punya anak yang tidak beriman, seperti nabi Nuh AS. Kenyataan ini sengaja diterangkan Allah dalam kitabNya, agar kita sudi menyadari, bahwa keberhasilan kita dalam mendidik anak sangat tergantung pula kepada ketentuan dan iradah Allah SWT, sehingga kita tidak akan segera menepuk dada dalam mengklaim keberhasilan kita dalam menanamkan keimanan itu kepada anak-anak kita seandainya kita berhasil. Allahu a’lam bishawaab!!!

1 alRahmaan = kasih sayang = kesenangan dalam memberi, oleh karena itu hanya Allah Yang punya rasa Kasih Sayang Yang Muthlak, karena hanya Dia Yang bisa memberi tanpa berkurang; di bawah Allah hanya ibu yang sudi memberikan/mengorbankan seluruh hidupnya demi kasih sayangnya kepada anaknya, sesudah itu barangkali ayah.

Semoga bermanfaat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: